Rabu, Juni 24, 2020

Pembelajaran Tematik


1.      Hakekat Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik saat ini memiliki peran penting dalam kancah pendidikan di Indonesia. Pembelajaran tematik merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai, atau sikap pembelajran serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek proses, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar[1].

Model pembelajaran tematik adalah suatu konsep yang dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar-mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Bermakna artinya, dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami Kecenderungan pembelajaran tematik diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kenutuhan anak. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Pelaksanaan pendekatan ini bertolak dari satu topik atau tema yang dipilih untuk dikembangkan guru. Tujuan dari tema ini bukan untuk literasi bidang studi, akan tetapi konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan alat atau wahana untuk mempelajari dan menjelajahi tema tersebut.[2]

Model pembelajaran tematik adalah suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, pembelajaran terpadu lebih melibatkan siswa aktif secara mental dan fisik di dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas dan dalam pembuatan keputusan. Pendapatan John Dewey dengan konsepnya Learning By Doing” sangat sesuai dengan pendekatan tematik ini. Pendekatan pembelajaran tematik dapat dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di tingkat dasar, terutama dalam rangka mengimbangi gejala penjejalan kurikulum yang sering terjadi dalam prose pembelajaran di sekolah.

Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema.[3] Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang disusun dari beberapa mata untuk membarikan kemudahan dalam kegiatan pembelajaran.

    2.      Model Pembelajaran Tema

Dalam pembelajaran berbasis tema, guru berperan sebagai fasilitator dan motivator dalam mendorong peserta didiknya untuk mengambil prakarsa. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk bersama-sama memilih dan mengembangkan tema berdasarkan minat dan pengetahuan yang dimilikinya (prior knowledge). Oleh karena itu, pemilihan dan pengembangan tema harus dilakukan secara kolaborasi antar peserta didik serta antar guru dan peserta didik. Dalam kaitan ini, guru sebaiknya menggunakan prinsip belajar yang berkembang dan berakar dalam kearifan local dan harus ditumbuhkembangkan lagi dalam suasana pembelajaran di sekolah. Salah satu yang dapat diterapkan adalah prinsip belajar, “silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Asih”.[4]

Prinsip “silih asih” mengandung arti bahwa proses pembelajaran di kelas didasarkan pada sikap dan perilaku saling menyayangi sehingga mal praktik dalam pendidikan, seperti perilaku pendidik yang menggerus dan melukai konsep diri (self concept) dan harga diri (self esteem) warga belajar dapat dicegah sejak dini. Prinsip silih asah mengandung arti bahwa implementasi kurikulum dikembangkan atas dasar sikap dan perilaku saling belajar diantara warga belajar (community of learners), yakni guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Prinsip silih asuh mengandung arti bahwa dalam proses pembelajaran (pemberian pengalaman belajar) dikembangkan sikap dan perilaku saling menjaga jati diri dan martabat masing-masing warga berlajar yang dilandasi oleh nilai-nilai kearifan lokal dan akhlak mulia.[5]

    3.      Karakteristik Kurikulum Tematik

Dalam menerapkan pembelajaran tematik, guru perlu memunculkan karakteristik-karakteristik tematik sebagai pembeda dengan pembelajaran yang lainnya[6]. Hal ini penting dan harus dilakukan karena indikator kurikulum tematik terletak dalam karakteristik-karakteristik tertentu. Jika guru tidak mampu memunculkan karakteristik-karakteristik tersebut, maka pembelajaran yang dilakukan sama halnya dengan pembelajaran biasa.

Dalam proses pembelajaran, guru ditunutut untuk memahami karakteristik-karakteristik dari kurikulum tematik. Diantara kaarakteristik kurikulum tematik secara umum adalah sebagai berikut[7]:

a.       Berpusat pada peserta didik

Ketika menyelenggarakan pembelajaran berdasarkan kurikulum tematik, guru harus menempatkan para peserta didiknya sebagai pusat dari semua aktivitas pembelajaran. Sehingga, para peserta didik mampu memperkaya pengalaman belajar mereka. Pengalaman belajar tersebut dituangkan dalam pembelajaran, dimana peserta didik menggali dan mengembangkan fenomena alam disekitar mereka. Dalam kurikulum tematik, guru hanya berperan sebagai fasilitator, dalam artian guru melakukan beberapa hal berikut[8]:

1)      Memfasilitasi kegiatan belajar peserta didik

2)      Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya, dan melayani pertanyaan mereka.

3)      Memberikan ruang sepenuhnya agar mereka bisa berekspresi sesuai dengan tema pelajaran.

4)      Merangsang keingintahuan para peserta didik terhadap materi pelajaran yang diajarkan.

5)      Memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menjelaskan atau mengungkapkan pemahaman mereka.

6)      Membeikan kemudahan kepada peserta didik untuk melakukan aktivitas belajar.

b.      Memberikan pengalaman langsung

Adapun yang dimaksud memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik adalah para peserta didik dituntut mengalami dan mendalami materi secara langsung dengan diri mereka masing-masing. Artinya, mereka dihadapkan pada pembelajaran kongkret, bukan hanya memahami melalui keterangan dari guru maupun buku-buku pelajaran. Dengan demikian, proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna.

c.       Tidak terjadi pemisahan materi pelajaran secara jelas

Ketika seorang guru mengajar menggunakan model pembelajaran tematik, maka tidak ada pemisahan secara jelas antar meteri pelajaran yang sedang dipelajari oleh peserta didik, namun materi pelajaran tersebut terintegrasi dan diikat oleh sebuat tema. Ketidakjelasan pemisahan antar mata pelajaran ini bukan berarti menghilangkan esensi dari mata pelajaran atau mengaburkan tujuan dari pembelajaran[9].

d.      Menyajikan konsep dari berbagai materi pelajaran

Dalam pembelajaran tematik, guru harus menyajikan konsep-konsep dari berbagai meteri pelajaran, hal ini bertujuan agar pemahaman peserta didik tidak parsial atau sepotong-potong. Dengan demikian, peserta didik mampu memahami semua konsep yang diajarkan secara utuh. Sebab pemahaman konsep secara utuh tersebut akan sangat berguna bagi perkembangan kepribadian, kedewasaan serta pendidikan dan pengetahuan bagi peserta didik.

e.       Bersifat fleksibel

Bersifat fleksibel disini adalah guru tidak boleh kaku dalam penyampaian materi pelajaran. Proses pembelajaran harus luwes. Hal ini sangat penting dilakukan, pada dasarnya belajar juga dapat dimaknai sebagai proses interaksi antara para peserta didik dengan lingkungan mereka.

f.       Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik

Penerapan pembelajaran tematik dalam kegiatan belajar mengajar juga dapat dilihat dari karakteristik lain, seperti adanya hasil belajar yang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik. Dengan kata lain,sesuatu yang diperoleh peserta didik dari kegiatan belajar adalah sesuatu yang sangat berguna bagi mereka, sangat dibutuhkan, sangat digemari, serta sangat mempengaruhi perkembangan intelektual dan kehidupan mereka.

Dalam pembelajaran tematik, kegiatan belajar mengajar harus diformat dan disusun sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik. Untuk mencapai minat dan kebutuhan tersebut, ada hal pokok yang harus dilakukan oleh guru. Hal pokok tersebut antara lain:

1)      Guru harus memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para peserta didik untuk dapat memaksimalkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.

2)      Menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan minat dan kebutuhan para peserta didik. Namun dalam konteks ini, yang harus diingat adalah guru tidak boleh keluar dari inti dan esensi materi yang diajarkan.

3)      Mengembangkan lingkungan belajar yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para peserta didik. Lingkungan belajar seperti suasana di dalam dan luar kelas, lingkungan sekolah, tata kelola gedung, dan lain-lain memang harus diciptakan sesuai dengan minat dan kebutuhan para peserta didiknya. Pasalnya, teciptanya lingkungan belajar yang baik dapat membantu para peserta didik dalam mencapai perkembangan potensial mereka, sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Vygotsky.[10]

g.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

Dalam praktiknya, pembelajaran berbasis tema harus menggunakan prinsip belajar sambil bermain. Hal tersebut tentu akan sangat menyenangkan bagi peserta didik. Guru dapat mengadakan kegiatan pembelajaran sambil bermain dengan beragam cara, seperti: tebak kata, bermain peran, dan diskusi.

h.      Mengembangkan komunikasi peserta didik

Dalam pembelajaran tematik kemampuan komunikasi peserta didik sangat ditekankan. Kemampuan interaksi ini menjadi indikator keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sekaligus sebagai karakteristtik dari pembelajaran berbasis tema. Kemampuan ini tentunya tidak muncul dengan sendirinya tanpa perantara. Dengan kata lain, kemampuan ini harus didorong dan ditopang oleh peran guru. Dalam hal ini banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru agar mampu mengembangkan kemampuan komunikasi peserta didiknya, diantaranya adalah sebagai berikut[11]:

1)      Memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menjelaskan dan berargumentasi secara lisan maupun tulisan.

2)      Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, menyampaikan sanggahan, termasuk juga memasukan dan kritik sesuai dengan kemampuan.

3)      Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar (selutuh peserta didik dalam satu kelas).

i.        Mengembangkan peta kognisi peserta didik

Istilah metakognisi dapat diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan sesuatu yang diketahui seseorang tentang individu yang belajar, serta cara mengontrol dan menyesuaikan perilakunya. Penekanan kemampuan metakognisi pembelajaran tematik adalah dalam rangka mendorong para peserta didik agar bisa mengembangkan kemampuannya secara optimal dalam kegiatan pembelajaran.

j.        Lebih menekankan proses dari pada hasil

Lebih menekankan proses di sini yang dimaksud adalah ketika gurur mengadakan kegiatan pembelajaran, guru harus benar-benar mendorong para peserta didiknya agar terlibat langsung dan aktif secara penuh dalam seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran, serta berupaya mendapatkan pemahaman secara mandiri.



[1] Sutirjo dan Sri Istuti Mamik. 2005. Tematik: Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang: Bayu Media. Hal. 5.

[2] Suko Pratomo. 2009. Model Pembelajaran Tematik Dalam Pendidikan Lingkungan Hidup (Plh) Di Sekolah Dasar. E-journal. Online: http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/PENDIDIKAN_DASAR/Nomor_11-April_2009/MODEL_PEMBELAJARAN_TEMATIK__DALAM_PENDIDIKAN_LINGKUNGAN_HIDUP_(PLH)_DI_SEKOLAH_DASAR.pdf. Diakses tanggal 13 Desember 2016.

[3] Kemendikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar Dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Tidak diterbitkan.

[4] Wahyu Sundayana. 2014. Pembelajaran Berbasis Tema: Paduan Guru dalam Mengembangkan Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 19.

[5] .,Ibid.

[6] Ibnu Hajar, M.Pd. 2013. Paduan Lengkap Kurikulum Tematik untuk SD/MI. Jogjakarta: Diva Press. Hal. 43.

[7] Syafaruddin. 2012. Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat. Medan: Perdana Publishing. Hal. 153.

[8] ,.Ibid.

[9] Ibnu Hajar. Op cit. Hal: 47

[10] Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 3; Pendidikan Disiplin Ilmu). Bandung: Emperial Bhakti Utama. Hal. 167.

[11] Ibid,. Hal.  166-167.


Previous Post
First

0 komentar: