Kamis, Juni 25, 2020

Keterampilan Menulis


Mempelajari Pelajaran Bahasa Indonesia tentunya kita membutuhkan sebuah keterampilan untuk menguasai  segala aspek yang ada dalam bahasa Indonesia tersebut. Diantara keterampilan yang dibutuhkan dalam mempelajari bahasa Indonesia adalah keterampilan Menulis, membaca, berbicara, dan menyimak. Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan apa itu keterampilan menulis melalui catatan singkat dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang diujikan pada 20 Maret 2017. Apa itu keterampilan menulis? Mari kita baca ringkasan berikut ini.

1.    Pengertian Menulis

Menulis dalam arti yang sederhana adalah merangkai-rangkai huruf menjadi kata atau kalimat. Kemampuan menulis berarti kemampuan untuk mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain melalui bahasa tulis. Kemampuan menulis diperoleh melalui proses yang panjang. Dimulai dari mengenal huruf, menyalin huruf, menulis kata, menulis kalimat, menulis paragraf, dan seterusnya sampai menulis karya ilmiah. Tentu saja pada tahap sekolah dasar tahap menulis belumlah kompleks. Karena itu, belajar menulis tersebut, terus dipelajari sampai perguruan tinggi.[1] Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik dan mengungkapkannya secara tersurat. Hal itu berarti dalam menulis gagasan diungkapkan secara terstruktur.  Sedangkan, Zainuddin memaparkan bahwa menulis adalah merangkai-rangkai huruf mejadi kata atau kalimat[2].

Selanjutnya, Tample yang dikuti dalam Saleh Abbas menerangkan bahwa menulis adalah proses berpikir yang berkesinambungan, mulai dari mencoba, dan sampai dengan mengulas kembali. Menulis sebagai proses berpikir berarti bahwa sebelum dan atau saat setelah menuangkan gagasan dan perasaan secara tertulis diperlukan keterlibatan proses berpikir.[3]

Berbeda dengan pendapat Pappas dalam Abbas, ia berpendapat bahwa menulis merupakan aktivitas yang bersifat aktif, konstruktif, dan menuangkan gagasan berdasarkan skemata, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki secara tertulis. Dalam proses tersebut, diperlukan kesungguhan mengolah, menata, mempertimbangkan secara kritis dan menata ulang gagasan yang dicurahkan. Hal tersebut diperlukan agar tulisan yang dihasilkan dapat terpahami pembaca dengan baik. Sedangkan, Djago Tarigan yang dikuti dalam Haryadi mengemukakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambanglambang grafis tersebut, kalau siswa memahami bahasa dan lambang grafis tersebut[4].

Sabarti Akhadiah dalam Rofi’udin menyebutkan bahwa menulis dapat diartikan sebagai aktivitas pengekspresian ide, gagasan, pikiran, atau perasaan ke dalam lambanglambang kebahasaan[5]. Dengan menulis, maka ide, gagasan, pikiran, atau perasaan dapat diketahui oleh orang lain tanpa harus mengatakannya kepada orang tersebut, jika orang yang membaca tulisan memahami lambang kebahasaan tersebut.

2.    Hakikat Keterampilan menulis

Keterampilan menulis secara bahasa tersusun atas istilah keterampilan dan menulis. Istilah keterampilan terbentuk dari kata dasar “terampil” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, “cakap dalam menyelesaikan tugas; mampu dan cekatan.” Definisi keterampilan sendiri menurut Muhibbin Syah adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya serta dalam keterampilan tersebut memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. Jadi, keterampilan merupakan kemampuan atau kecakapan seseorang dalam melakukan suatu kegiatan jasmaniah[6].

Pengertian menulis menurut Suparno dan Mohamad Yunus, menulis merupakan suatu kegiatan menyampaikan pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau media[7]. Sejalan dengan pendapat tersebut Kundharu Saddhono dan Y. Slamet menyatakan bahwa merupakan pengungkapan ide, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman hidup seseorang dalam bahasa tulis[8]. Pendapat lain diungkapkan Henry Guntur Tarigan menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik itu[9]. Jadi, menulis adalah kegiatan seseorang dalam menyampaikan pesan melalui bahasa tulis berupa lambang-lambang grafik sehingga dapat dipahami oleh orang lain.

Secara utuh keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Henry Guntur Tarigan menjelaskan bahwa keterampilan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain[10]. Pengertian keterampilan menulis menurut Solchan, dkk. merupakan keterampilan atau kemampuan menyampaikan pesan kepada pihak lain secara tertulis[11]. Kemampuan ini bukan hanya berkaitan dengan kemahiran siswa menyusun dan menuliskan simbol-simbol tertulis, tetapi juga mengungkapkan pikiran, pendapat, sikap dan perasaan secara jelas dan sistematis sehingga dapat dipahami oleh orang yang menerimanya, seperti yang dimaksudkan.

Senada dengan pendapat tersebut, Kundharu Saddhono dan Y. Slamet berpendapat bahwa keterampilan menulis adalah kemampuan seseorang dalam menyusun suatu tulisan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan kepada pembaca melalui bahasa tulis dan sesuai pada kaidah bahasa Indonesia[12]. Jadi, keterampilan menulis merupakan kemampuan atau kecakapan seseorang dalam menyampaikan ide atau gagasan secara sistematis melalui bahasa tulis sesuai pada kaidah bahasa Indonesia yang benar.

Keterampilan menulis adalah kemampuan mengekresikan pikiran melalui lambang-lambang tulisan. Menurut Henry Guntur Tarigan mengartikan “Keterampilan menulis adalah menirukan atau melukiskan lambang-lambang yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang”. Kemampuan menulis permulaan tidak jauh berbeda dengan kemampuan membaca permulaan. Pada tingkat dasar/permulaan, pembelajaran menulis lebih di orientasikan pada kemampuan mengenal simbol huruf.[13]

Munculnya kesenangan menulis dimulai bukan pada saat anak dapat menuangkan gagasan dengan bahasa tulisan, tetapi diidentifikasikan sejak anak mengekspresikan idenya dalam menulis. Menurut Pangesti Wiedarti Dengan goresan cakar ayam, garis lengkung,garis datar, miring kanan, miring kiri merupakan bagian dari munculnya kesenangan menulis, Walaupun bagi orang dewasa, bentuk itu tidak bermakna.

Secara umum anak sudah melakukan kegiatan menulis sebelum anak masuk sekolah atau sebelum anak menerima pembelajaran menulis secara formal disekolah. Hal ini dapat dilihat pada waktu anak melihat alat tulis, secara spontan anak akan menggunakan alat tulis tersebut untuk menulis walaupun yang dibuat anak hanya merupakan coretan yang tidak jelas atau coretan benang kusut. Sedangakan menurut Dhieni yaitu “Perkembangan menulis pada anak usia dini dimulai dari cara anak memegang pensil untuk mencoret-coret, namun seiring perkembangannya anak akan mengkonsetrasikan jari-jari untuk menulis lebih baik”.[14]

Menurut pendapat ahli, menulis membutuhkan perkembangan kemampuan lebih lanjut dari menulis. Menurut Morrow membagi kemampuan menulis anak menjadi 6 tahapan sebagai berikut: 1) Writing Via Scribbling, tahapan mecoret usia 2,5-3 tahun. Pada tahan ini, kegiatan menulis yang dilakukan anak hanya berbentuk coretan yang tidak memiliki bentuk hanya menyerupai tarikan garis ke atas dan ke bawah. 2) Writing Via Drawing, tahap menulis melalui menggambar usia 3-3,5 tahun. Pada masa ini, kegiatan menulis yang dilakukan anak melalui kegiatan menggambar. Hal ini disebabkan karena anak menganggap kegiatan menggambar sama dengan kegiatan menulis dan anak menganggap bahwa dengan membuat gambar berarti ia telah menuliskan pesannya kepada orang lain. 3) Writing Via Making Letter- Like Forms, tahap menulis melalui membentuk gambar seperti huruf usia 4 tahun. Pada tahap ini, secara sepintas apa yang digambarkan menyerupai bentuk suatu huruf. Anak tidak hanya membuat goresan, tetapi sudah melibatkan unsur kreasi atau gambar. 4) Writing Via Reproducing Weel- Learned Unit Or Letter Stings, tahap menulis dengan membuat huruf yang akan dipelajari usia 4 tahun. Pada tahap ini anak menulis dengan cara menghasilkan huruf-huruf atau unit yang sudah baik. Anak

3.    Pembelajaran Keterampilan Menulis di Sekolah Dasar

Pembelajaran menulis dilaksanakan sejak dini, yakni sejak SD kelas rendah. Hal tersebut dilakukan mengingat betapa pentingnya kemampuan menulis itu. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan sesuatu yang ada dalam pikirannya, sehingga dapat dibaca oleh orang lain. Untuk mempelajari ilmu yang lain tidak bisa lepas dari menulis. Darmiyati, dkk. menyatakan bahwa kemampuan menulis yang siswa miliki memungkinkan siswa untuk mengkomunikasikan ide, penghayatan dan pengalaman ke berbagai pihak, terlepas dari ikatan waktu dan tempat. Berkomunikasi tidaklah hanya dengan berbicara, tetapi menulis juga merupakan salah satu bentuk dari komunikasi.

Sebagai contoh, untuk berkomunikasi dengan suatu instansi biasanya memakai surat. Tulisan jangkauannya juga lebih luas dibandingkan hanya dengan berbicara. Misalnya, tulisan di surat kabar akan menjangkau semua pembaca surat kabar tersebut walaupun pembaca berada di tempat yang jauh. Jadi menulis bertujuan agar seseorang dapat mengkomunikasikan ide, penghayatan dan pengalaman ke berbagai pihak, terlepas dari ikatan waktu dan tempat. Selain itu, menulis juga bertujuan untuk dapat



[1] Zainuddin. 1991. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 97.

[2] ..Ibid.

[3] Saleh Abbas. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Efektif Di SD. Jakarta: Departemen pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Hal. 127.

[4] Haryadi & Zamzani. 1996. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Departemen pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Hal. 77.

[5] Ahmad Rofi’uddin & Darmiyati Zuhdi. 1999. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Kelas Tinggi. Jakarta: Departemen pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Hal. 262.

[6] Muhibbin Syah. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal. 117.

[7] Suparno dan Mohamad Yunus. 2008. Materi Pokok Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka. Hal. 13.

[8] Kundharu Sadhono dan Y. Slamet, Meningkatakan Keterampilan Berbahasa Indonesia, (Bandung: Karya Putra Darwanti, 2012), hal. 96.

[9] Henry Guntur Tarigan. Menulis: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008), hal. 22.

[10] ..Ibid,.  hal. 3.

[11] Solchan, Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia di SD, (Jakarta: Uniersitas Terbuka, 2011), hal. 133.

[12] Kundaru, … hal. 112.

[13] Sumiati, Fadillah, Dian Miranda.  2016. Peningkatan Kemampuan Menulis Permulaan Melalui Aneka Media Pada Anak Usia 4-5 Tahun. Jurnal IPI Online No 196242 Hal. 2.

[14] Ibid..


Previous Post
Next Post

0 komentar: